Nama : Mutiah AyuNingsih
NIM : 141910029
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Kuliah : Sosiologi
Dosen : Sumarni Bayu Anita S.sos,
M.A
Bab 7
Kekuasaan,Wewenang,dan Kepemimpinan
Kekuasaan,Wewenang,dan Kepemimpinan
Usai
membaca buku, Sosiologi Suatu Pengantar,khususnya pada Bab 7. Kekuasaan,Wewenang, dan Kepemimpinan,
h.227-256, yang ditulis oleh Soerjono Soekanto, akan diperoleh gambaran umum
mengenai Pengantar Sosiologi melalui 7 sub judul yakni, Pengantar, Hakikat
Kekuasaan dan Sumbernya,Unsur-unsur saluran
Kekuasaan dan Dimensinya, Cara-cara Mempertahankan
kekuasaan, Beberapa bentuk Lapisan Kekuasaan, Wewenang, Kepemimpinan dan
Kesimpulan.
Dalam
ilmu sosiologi, kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan
masyarakat, dimana pemimpin selalu ada dalam berbagai kelompok baik kelompok
besar seperti pemerintahan maupun kelompok kecil seperti kelompok RT. Dari
sekelompok individu dipilih salah satu yang mempunyai kelebihan di antara
individu yang lain, dari hasil kesepakatan bersama, maka munculah seorang yang
memimpin dan di sebut sebagai pemimpin. Kepemimpinan adalah perilaku seseorang
individu ketika ia mengarahkan aktivitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan
bersama (hemphill dan Coons, 1957:7).
Dari
kepemimpinan itu, maka munculah kekuasaan. Kekuasaan mempunyai
peranan yang dapat
menentukan nasib berjuta-juta
manusia.Kekuasaan memiliki sifat netral, untuk melihat baik buruknya
dilihat dari penggunaannya bagikeperluan
masyarakat. “Adanya kekuasaan
cenderung tergantung dari
hubungan antara pihak yang
memiliki kemampuan untuk
melancarkan pengaruh dengan
pihak lain yang menerimapengaruh itu, rela atau karena
terpaksa” Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi. Seorang pemimpin mempunyai kekuasaan untuk
mengatur dan mengarahkan anggota-anggotanya. Selain itu, pemimpin juga
mempunyai wewenang untuk memerintah anggotanya. Wewenang merupakan hak jabatan
yang sah untuk memerintahkan orang lain bertindak dan untuk memaksa
pelaksanaannya. Dengan wewenang, seseorang dapat mempengaruhi aktifitas atau
tingkah laku perorangan dan grup.
Maka
kepemimpinan tidak akan pernah lepas dari kekuasaan dan kewenangan untuk
mengatur anggota-anggotanya.
Max Weber membedakan
pimpinan dalam tiga ketegori yaitu pemimpin tradisional, pimpinan berdasarkan
pertimbangan akal (pimpinan rasional) dan pimpinan kharismatik.
Kepemimpinan juga di
artikan dalam 3 hal yaitu:
- Usaha atau kegiatan
memimpin
- Kemampuan menjalankan
usaha tersebut
- Wibawa yang
menyebabkan orang dianggap mampu memimpin
Munculnya
seorang pemimpin merupakan hasil dari suatu proses dinamis yang sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan kelompok. Dikalangan masyarakat Indonesia,sifat-sifat yang
harus dipenuhi oleh seorang pemimpin, antara lain dapat dijumpai dalam apa yang
merupakan warisan tradisional Indonesia, misalnya dalam “Asta Brata”
yang merupakan kumpulan seloka dalam Ramayana, yang memuat ajaran Sri Rama kepada Bharata. Sifat-sifat tersebut dapat
diterapkan dalam kepemimpinana yang modern, tapi selain itu ada juga
kepemimpinan yang namanya Pimpinan
tradisional ,pemimpin yang sangat
ketat berpegang pada adat kebiasaan yang di turun
temurunkan .Kepemimpinan tradisional
pada umumnya bertumpu pada tata hukum yang mengatur hidup
satu masyarakat.
Karena berdasarkan tata
hukum, maka kepemimpinan tradisional sebenarnya bersifat legal artinya
bersumber pada hukum.
Dalam
sistem kepemimpinan tradisional yang di tekan kan adalah unsur pertalian darah
, sehingga penempatan individu dalam posisi dan jabatan yang ada tidak tergantung pada tepat tidaknya orang tersebut
berdasarkan kemampuan nya untuk menduduki posisi itu , melainkan pada dekat
tidaknya pertalian keluarga dengan pemimpin tradisional itu.
Pimpinan
trdisional diakui kepemimpinannya bukan karena kemampuan-kemampuan khusus yang
dimilikinya, melainkan hanya karena pengaruhnya dengan kelurga sudah melembaga
dan menjiwai masyarakat. Hal ini terutama karena pimpinan itu mempunyai
reputasi yang tinggi, sehingga keturunannya di percaya terus menerus memegang
tampuk pimpinan.
Seorang
pemimpin yang diharapkan harus memiliki idealisme kuat,mengikuti kehendak yang
dibentuk masyarakat, dan mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan
masyarakat.
Perlu dicatat bahwa kepemimpinan dalam
masyarakat-masyarakat tradisional pada umumnya dilaksanakan secara kolegal
(bersama-sama), contohnya seorang penyumbang marga sebagai kepala adat di Daerah
Lampung tidak akan bertindak sendiri sebelum di rundingkan dalam suatu rapat.
Kekuatan
kepemimpinan juga di tentukan oleh suatu lapangan kehidupan masyarakat yang
pada suatu saat mendapat perhatian khusus dari masyarakat yang di sebut cultural focus.
Setiap
kepemimpinan yang efektif harus memperhitungkan social basis
apabila tidak
menghendaki timbulnya ketegangan-ketegangan
atau setidak-tidaknya terhindar dari pemerintahan boneka belakang.
Moejiono (2002) memandang bahwa
leadership tersebut
sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki
kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para
ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai
pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana
untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar