Minggu, 14 Desember 2014

Review buku Sosiologi bab 7

Nama          : Mutiah AyuNingsih
NIM            : 141910029
Jurusan        : Ilmu Komunikasi
Kuliah          : Sosiologi
                                           Dosen          : Sumarni Bayu Anita S.sos, M.A
         


Bab 7
 Kekuasaan,Wewenang,dan Kepemimpinan


Usai membaca buku, Sosiologi Suatu Pengantar,khususnya pada Bab 7.  Kekuasaan,Wewenang, dan Kepemimpinan, h.227-256, yang ditulis oleh Soerjono Soekanto, akan diperoleh gambaran umum mengenai Pengantar Sosiologi melalui 7 sub judul yakni, Pengantar, Hakikat Kekuasaan dan Sumbernya,Unsur-unsur  saluran  Kekuasaan  dan  Dimensinya, Cara-cara Mempertahankan kekuasaan, Beberapa bentuk Lapisan Kekuasaan, Wewenang, Kepemimpinan dan Kesimpulan.
         Kekuasaan, wewenang, dan kepemimpinan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat penting dalam kehidupan kelompok sosial di masyarakat.
Dalam ilmu sosiologi, kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, dimana pemimpin selalu ada dalam berbagai kelompok baik kelompok besar seperti pemerintahan maupun kelompok kecil seperti kelompok RT. Dari sekelompok individu dipilih salah satu yang mempunyai kelebihan di antara individu yang lain, dari hasil kesepakatan bersama, maka munculah seorang yang memimpin dan di sebut sebagai pemimpin. Kepemimpinan adalah perilaku seseorang individu ketika ia mengarahkan aktivitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan bersama (hemphill dan Coons, 1957:7).
Dari kepemimpinan itu, maka munculah kekuasaan. Kekuasaan  mempunyai  peranan  yang  dapat  menentukan  nasib  berjuta-juta  manusia.Kekuasaan memiliki sifat netral, untuk melihat baik buruknya dilihat dari penggunaannya bagikeperluan  masyarakat.  “Adanya  kekuasaan  cenderung  tergantung  dari  hubungan  antara  pihak yang  memiliki  kemampuan  untuk  melancarkan  pengaruh  dengan  pihak  lain  yang menerimapengaruh itu, rela atau karena terpaksa” Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi.  Seorang pemimpin mempunyai kekuasaan untuk mengatur dan mengarahkan anggota-anggotanya. Selain itu, pemimpin juga mempunyai wewenang untuk memerintah anggotanya. Wewenang merupakan hak jabatan yang sah untuk memerintahkan orang lain bertindak dan untuk memaksa pelaksanaannya. Dengan wewenang, seseorang dapat mempengaruhi aktifitas atau tingkah laku perorangan dan grup.
Maka kepemimpinan tidak akan pernah lepas dari kekuasaan dan kewenangan untuk mengatur anggota-anggotanya.
Max  Weber membedakan pimpinan dalam tiga ketegori yaitu pemimpin tradisional, pimpinan berdasarkan pertimbangan akal (pimpinan rasional) dan pimpinan kharismatik.
Kepemimpinan juga di artikan dalam 3 hal yaitu:
- Usaha atau kegiatan memimpin
- Kemampuan menjalankan usaha tersebut
- Wibawa yang menyebabkan orang dianggap mampu memimpin
Munculnya seorang pemimpin merupakan hasil dari suatu proses dinamis yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok. Dikalangan masyarakat Indonesia,sifat-sifat yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin, antara lain dapat dijumpai dalam apa yang merupakan warisan tradisional Indonesia, misalnya dalam  “Asta Brata”  yang merupakan kumpulan seloka dalam Ramayana, yang  memuat ajaran Sri Rama kepada  Bharata. Sifat-sifat tersebut dapat diterapkan dalam kepemimpinana yang modern, tapi selain itu ada juga kepemimpinan yang namanya  Pimpinan tradisional ,pemimpin  yang  sangat  ketat  berpegang pada adat kebiasaan  yang di turun  temurunkan .Kepemimpinan  tradisional pada umumnya bertumpu pada tata hukum yang mengatur  hidup  satu  masyarakat.
Karena berdasarkan tata hukum, maka kepemimpinan tradisional sebenarnya bersifat legal artinya bersumber pada hukum. 
Dalam sistem kepemimpinan tradisional yang di tekan kan adalah unsur pertalian darah , sehingga penempatan individu dalam posisi dan jabatan  yang ada tidak tergantung  pada tepat tidaknya orang tersebut berdasarkan kemampuan nya untuk menduduki posisi itu , melainkan pada dekat tidaknya pertalian keluarga dengan pemimpin tradisional itu.
Pimpinan trdisional diakui kepemimpinannya bukan karena kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, melainkan hanya karena pengaruhnya dengan kelurga sudah melembaga dan menjiwai masyarakat. Hal ini terutama karena pimpinan itu mempunyai reputasi yang tinggi, sehingga keturunannya di percaya terus menerus memegang tampuk pimpinan.
Seorang pemimpin yang diharapkan harus memiliki idealisme kuat,mengikuti kehendak yang dibentuk masyarakat, dan mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan masyarakat.
          Perlu dicatat bahwa kepemimpinan dalam masyarakat-masyarakat tradisional pada umumnya dilaksanakan secara kolegal (bersama-sama), contohnya seorang penyumbang marga sebagai kepala adat di Daerah Lampung tidak akan bertindak sendiri sebelum di rundingkan dalam suatu rapat.
Kekuatan kepemimpinan juga di tentukan oleh suatu lapangan kehidupan masyarakat yang pada suatu saat mendapat perhatian khusus dari masyarakat yang  di sebut cultural focus.
Setiap kepemimpinan yang efektif harus memperhitungkan social basis
apabila tidak menghendaki timbulnya ketegangan-ketegangan  atau setidak-tidaknya terhindar dari pemerintahan boneka belakang.
            Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar