Nama :
Mutiah AyuNingsih NIM : 141910029
Mata Kuliah : Sistem Sosial Budaya Indonesia
Dosen : Sumarni Bayu Anita, S.Sos., M.A.
Kali
ini saya mendapatkan tugas mereview buku “Pempek Palembang” karya Sumarni Bayu
Anita, S.Sos., M.A. bab 4 “Wong Palembang dan Pempeknya”. Seperti yang kita
ketahui pempek sekarang bukan hanya menjadi makanan yang populer di daerah
Sumatera saja. Namun kini pempek sudah beredar hampir di semua daerah
Indonesia, bahkan sekarang produk makanan khas ini memiliki peluang pasar yang
sangat luas, menjangkau masyarakat kelas bawah sampai kalangan menengah keatas.
Dan
pada bab ini lebih fokus membahas antara orang-orang Palembang dengan pempek
“Dak mungkin Wong Palembang kalo dak seneng makan pempek. Makanan pokok Wong
Palembang itu iyolah pempek.” Sultan Iskandar Mahmud Badarudin
Antara
pempek dan wong Palembang tercipta ikatan kuat yang saling memiliki sehingga
kerap kali muncul laksana segurat hukum alam yang akan selalu dikenakan bagi
mereka yang mau dikatakan sebagai wong Palembang.
Tetapi
dari rumusan Kathryn Woodward mengidentitaskan lewat penandaan adanya
perbedaan,sehingga membentuk system penggolongan yang setidaknya terbagi
menjadi dua kelompok yang saling berlawanan antara Wong Palembang dan Wong
non-Palembang da nada pun pemikiran dari Mary Douglas mengenai penciptaan
orang dalam dan orang luar serta konstruksinya dalam struktur sosial.
Tindakan
dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik
diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990).
Salah
satu sub judul dalam bab ini Pempek Kelas Atas Sebagai Wacana Dominan.
Selera memang bersifat subjektif, setiap orang memiliki standarisasi terentu
mengenai rasa dan pilihan makanan untuk dikonsumsi.
“Masa iya
ada pembagian kelas-kelas untuk penikmat pempek ?”
Nyatanya pempek bagi wong Palembang memang
menciptakan kelas-kelas yang berdampak pada perilaku mereka sendiri dalam
mengonsumsinya, faktor-faktor yang dilihat, yakni tempat jualannya, harganya,
bahan ikannya, takaan ikannya, sasaran pasarnya, dan rasanya. Namun,
kenyataanya ini sendiri menimbulkan pertarungan wacana bagi wong kito. Adapun
pempek kelas atas sebagai wacana dominan sering kali muncul sebagai “rupa”
pempek yang layak dijadikan ikon kuliner dari Kota Palembang, seperti pempek
Pak Raden,pempek Vico, pempek
Candy dan lainnya yang termasuk dalam golongan pempek kelas atas.
Menurut salah satu narasumber yang telah
diwawancarai oleh pengarang buku ini memaparkan bahwa menurutnya “pembagian kelompok berdasarkan jenis ikan
itu sulit karena jenis ikan yang digunakan akan sama. Kalau menurut pemukuan,
higinis, stukur dan kelezatan bumbu cuka baru bias dibedakan berdasarkan kelas
atas-bawah. Ada yang menggunakan jenis ikan yang sama namun struktur campuran
tepung sagu dan telur yang berbeda akan memberi rasa yang berbeda juga.” (Agung
Fitriady, wawancara pribadi 24 Mei 2014)
Segi harga merupakan identifikasi kelas
paling mudah untuk membedakannya, pempek-pempek yang dijual di Palembang. Harga
untuk kelas bawah (Rp.500-Rp.1.000), menengah (Rp. 1.000-Rp.3.000) dan atas
(Rp.3.000 ke atas). Harga-harga in bias muncul umumnya disebabkan karena bahan
pempek itu sendiri, yakni jenis dan takaran iknnya, juga dengan melihat tempat
dimana pempek itu dijual. Dari sini penjual memang memberikan pilihan yang
menyesuaikan kemampuan keuangan konsumen.
“Pempek
sebagai produk pasar, semua tergantung selera konsumen. Sehingga, untuk mengatakan
mana pempek yang paling lemak itu juga tergantung selera konsumen”(Mang
Ali,wawancara pribadi oleh pengarang,22 Februari 2012)
Pada dasarnya para produsen pempek yang
ada di Palembang tidak akan pernah kehilangan konsumennya, karena apapun kelas
pempen yang dibuat, akan selalu ada konsumen yang menjadi penikmatnya. Konsumen
pemmpek di Palembang memang tidak lah memandang usia, gender, agama, profesi,
etnis, maupun posisi politik. Namun, untuk mereka yang dikategorikan sebagai
tamu agung atau para pelanong di Palembang, selalu diberikan suguhan pertama
kali untuk menikmati pempek kelas, “Kesan
pertama selalu menggoda. Selanjutnya terserah Anda” semata-mata untuk mendapatkan
kesan yang baik, maka cobalah dari kategori pempek yang terbaik.
Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang
Yudhoyono (salah satu contoh tamu agung yang ditunjukkan untuk sasaran pasar
pempek kelas atas) yang bertugas di Palembang sebagai Palinglima Kodam
II/Sriwijaya. Namun saat dia kembali mengadakan kunjungan ke Palembang usai
menghadiri HPN ke-64 di The Aryaduta Hotel,Selasa, 9 Febuari 2010, SBY ikut
menyaksikan langsung cara pempuatan pempek disalah satu took pempek kelas atas
di Palembang yaitu Pempek Pak Raden. Ada juga ketika Dubes Amerika Serikat,
Scort Marciel datang ke Palembang, dijamu makan di Gedung VVPI bandara
Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dan diberikan menu makanan khas
Palembang pastinya, seperti laksan, burgo, tekwan (Sumatera Ekspress , 3 Februari 2012)
Ada kebanggan tersendiri bagi mereka
yang memperkenalkan kebudayaan mereka kepada orang lain sebagai identitas yang
membedakan mereka dengan tamunya dan bahkan mereka rela untuk mengeluarkan uang
lebih demi gengsi untuk memberikan yang terbaik bagi tamunya. Jadi , jangan heran pula bila banyak orang
Palembang sehari-hari hanya mengonsumsi pempek kelas menengah bahkan kelas
bawah, tapi jika sudah berusahan untuk memberikan oleh-oleh kepada tamu agung
mereka,pastilah mereka akan memberikan
pempek kelas atas.
Uniknya, Wong Palembang tetap menganggap
pempek kelas bawah sebagai pempek Palembang tidak boleh dipinggirkan. Meskipun
masih terus dikonstruksikan apakah pempek kelas bawah ini bisa dinyatakan
sebagai pempek asli Palembang atau tidak ? “Tentu
asli, karena pempek merupakan warisan culture yang berbentuk benda” ini lah
jawaban dari dosen saya (Sumarni Bayu Anita,S.Sos.,M.A pengarang buku Pempek Palembang)
saat membahas bab ini.
Meski pun banyak produk pempek yang
tersebar di seluruh wilayah Indonesia, ternyata Pempek Candy khas Palembang lah
yang paling banyak mampir ke ibu kota Jakarta, karena setiap bulan setidaknya
sekitar 20-30 ton pempek yang dikirim ke Jakarta sebagai oleh-oleh. Ini
didasarkan oleh pengakuan Visi Firman,Head
of Corporate Communications JNE Express Across Nation. Fakta ini lah yang
ikut membuktikan bahwa Pempek Palembang yang paling popular disaat ini.
“Mau
dari kelas atas,menengah ataupun bawah pempek itu, adalah asli warisan culture
dari Palembang” (Sumarni Bayu
Anita,S.Sos.,M.A) .


