Minggu, 21 Desember 2014

Review Buku Pempek Palembang bab4 karangan Sumarni Bayu Anita S.sos, M.A


Nama                   : Mutiah AyuNingsih 
NIM                     : 141910029 
Mata Kuliah         : Sistem Sosial Budaya Indonesia
Dosen                   : Sumarni Bayu Anita, S.Sos., M.A.


Kali ini saya mendapatkan tugas mereview buku “Pempek Palembang” karya Sumarni Bayu Anita, S.Sos., M.A. bab 4 “Wong Palembang dan Pempeknya”. Seperti yang kita ketahui pempek sekarang bukan hanya menjadi makanan yang populer di daerah Sumatera saja. Namun kini pempek sudah beredar hampir di semua daerah Indonesia, bahkan sekarang produk makanan khas ini memiliki peluang pasar yang sangat luas, menjangkau masyarakat kelas bawah sampai kalangan menengah keatas.

Dan pada bab ini lebih fokus membahas antara orang-orang Palembang dengan pempek “Dak mungkin Wong Palembang kalo dak seneng makan pempek. Makanan pokok Wong Palembang itu iyolah pempek.” Sultan Iskandar Mahmud Badarudin
Antara pempek dan wong Palembang tercipta ikatan kuat yang saling memiliki sehingga kerap kali muncul laksana segurat hukum alam yang akan selalu dikenakan bagi mereka yang mau dikatakan sebagai wong Palembang.

Tetapi dari rumusan Kathryn Woodward mengidentitaskan lewat penandaan adanya perbedaan,sehingga membentuk system penggolongan yang setidaknya terbagi menjadi dua kelompok yang saling berlawanan antara Wong Palembang dan Wong non-Palembang da nada pun pemikiran dari Mary Douglas mengenai penciptaan orang dalam dan orang luar serta konstruksinya dalam struktur sosial.
Tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990).

Salah satu sub judul dalam bab ini Pempek Kelas Atas Sebagai Wacana Dominan. Selera memang bersifat subjektif, setiap orang memiliki standarisasi terentu mengenai rasa dan pilihan makanan untuk dikonsumsi.
 “Masa iya ada pembagian kelas-kelas untuk penikmat pempek ?”
 Nyatanya pempek bagi wong Palembang memang menciptakan kelas-kelas yang berdampak pada perilaku mereka sendiri dalam mengonsumsinya, faktor-faktor yang dilihat, yakni tempat jualannya, harganya, bahan ikannya, takaan ikannya, sasaran pasarnya, dan rasanya. Namun, kenyataanya ini sendiri menimbulkan pertarungan wacana bagi wong kito. Adapun pempek kelas atas sebagai wacana dominan sering kali muncul sebagai “rupa” pempek yang layak dijadikan ikon kuliner dari Kota Palembang, seperti pempek Pak Raden,pempek Vico, pempek Candy dan lainnya yang termasuk dalam golongan pempek kelas atas.
Menurut salah satu narasumber yang telah diwawancarai oleh pengarang buku ini memaparkan bahwa menurutnya “pembagian kelompok berdasarkan jenis ikan itu sulit karena jenis ikan yang digunakan akan sama. Kalau menurut pemukuan, higinis, stukur dan kelezatan bumbu cuka baru bias dibedakan berdasarkan kelas atas-bawah. Ada yang menggunakan jenis ikan yang sama namun struktur campuran tepung sagu dan telur yang berbeda akan memberi rasa yang berbeda juga.” (Agung Fitriady, wawancara pribadi 24 Mei 2014)

Segi harga merupakan identifikasi kelas paling mudah untuk membedakannya, pempek-pempek yang dijual di Palembang. Harga untuk kelas bawah (Rp.500-Rp.1.000), menengah (Rp. 1.000-Rp.3.000) dan atas (Rp.3.000 ke atas). Harga-harga in bias muncul umumnya disebabkan karena bahan pempek itu sendiri, yakni jenis dan takaran iknnya, juga dengan melihat tempat dimana pempek itu dijual. Dari sini penjual memang memberikan pilihan yang menyesuaikan kemampuan keuangan konsumen.
          Pempek sebagai produk pasar, semua tergantung selera konsumen. Sehingga, untuk mengatakan mana pempek yang paling lemak itu juga tergantung selera konsumen”(Mang Ali,wawancara pribadi oleh pengarang,22 Februari 2012)
Pada dasarnya para produsen pempek yang ada di Palembang tidak akan pernah kehilangan konsumennya, karena apapun kelas pempen yang dibuat, akan selalu ada konsumen yang menjadi penikmatnya. Konsumen pemmpek di Palembang memang tidak lah memandang usia, gender, agama, profesi, etnis, maupun posisi politik. Namun, untuk mereka yang dikategorikan sebagai tamu agung atau para pelanong di Palembang, selalu diberikan suguhan pertama kali untuk menikmati pempek kelas, “Kesan pertama selalu menggoda. Selanjutnya terserah Anda” semata-mata untuk mendapatkan kesan yang baik, maka cobalah dari kategori pempek yang terbaik.
Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (salah satu contoh tamu agung yang ditunjukkan untuk sasaran pasar pempek kelas atas) yang bertugas di Palembang sebagai Palinglima Kodam II/Sriwijaya. Namun saat dia kembali mengadakan kunjungan ke Palembang usai menghadiri HPN ke-64 di The Aryaduta Hotel,Selasa, 9 Febuari 2010, SBY ikut menyaksikan langsung cara pempuatan pempek disalah satu took pempek kelas atas di Palembang yaitu Pempek Pak Raden. Ada juga ketika Dubes Amerika Serikat, Scort Marciel datang ke Palembang, dijamu makan di Gedung VVPI bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dan diberikan menu makanan khas Palembang pastinya, seperti laksan, burgo, tekwan (Sumatera Ekspress , 3 Februari 2012)
Ada kebanggan tersendiri bagi mereka yang memperkenalkan kebudayaan mereka kepada orang lain sebagai identitas yang membedakan mereka dengan tamunya dan bahkan mereka rela untuk mengeluarkan uang lebih demi gengsi untuk memberikan yang terbaik bagi tamunya. Jadi , jangan heran pula bila banyak orang Palembang sehari-hari hanya mengonsumsi pempek kelas menengah bahkan kelas bawah, tapi jika sudah berusahan untuk memberikan oleh-oleh kepada tamu agung mereka,pastilah  mereka akan memberikan pempek kelas atas.
Uniknya, Wong Palembang tetap menganggap pempek kelas bawah sebagai pempek Palembang tidak boleh dipinggirkan. Meskipun masih terus dikonstruksikan apakah pempek kelas bawah ini bisa dinyatakan sebagai pempek asli Palembang atau tidak ? “Tentu asli, karena pempek merupakan warisan culture yang berbentuk benda” ini lah jawaban dari dosen saya (Sumarni Bayu Anita,S.Sos.,M.A pengarang buku Pempek Palembang) saat membahas bab ini.
Meski pun banyak produk pempek yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, ternyata Pempek Candy khas Palembang lah yang paling banyak mampir ke ibu kota Jakarta, karena setiap bulan setidaknya sekitar 20-30 ton pempek yang dikirim ke Jakarta sebagai oleh-oleh. Ini didasarkan oleh pengakuan Visi Firman,Head of Corporate Communications JNE Express Across Nation. Fakta ini lah yang ikut membuktikan bahwa Pempek Palembang yang paling popular disaat ini. 
“Mau dari kelas atas,menengah ataupun bawah pempek itu, adalah asli warisan culture dari Palembang” (Sumarni Bayu Anita,S.Sos.,M.A) .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar